Tampilkan postingan dengan label adab ijtima'i. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adab ijtima'i. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 November 2018

STRUKTURALISME GENETIK


BAB II
PEMBAHASAN


A.     STRUKTURALISME GENETIK

1.      Sejarah munculnya strukturalisme genetik
Strukturalisme genetik merupakan teori di bawah payung sosiologi sastra. Strukturalisme genetik ditemukan oleh Lucien Goldmann, seorang filsuf dan sosiolog Rumania-Perancis. Teori tersebut dikemukakan dalam bukunya yang berjudul The Hidden God: a Study of Tragic Vision in the Pensees of Paskal and the Tragedies of Racine[1]. Strukturalisme genetik adalah sebuah pendekatan di dalam penelitian sastra yang lahir sebagai reaksi pendekatan strukturalisme murni yang anti historis dan kausal. Kemunculannya disebabkan, adanya ketidakpuasan terhadap pendekatan strukturalisme, yang kajiannya hanya menitikberatkan pada unsur-unsur instrinsik tanpa memperhatikan unsur-unsur ekstrinsik karya sastra, sehingga karya sastra dianggap lepas dari konteks sosialnya.
Goldmann menyebutkan teorinya sebagai struturalisme genetik. Artinya, ia percaya bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur[2]. Akan tetapi, struktur itu bukanlah sesuatu yang statis, melainkan merupakan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses strukturasi dan destrukturasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat karya sastra yang bersangkutan, sehingga struktur sosial yang ada di masyarakat mengalami destrukturasi pada karya sastra melalui pengarang.
Adapun teori strukturalisme genetik bermula dari tiga fundamental perilaku manusia yang merupakan hakikat hubungan manusia dengan lingkungannya, tiga ciri itu adalah:
(1) adanya kecenderungan manusia menyesuaikan diri terhadap realitas lingkungannya sehingga sifat hubungan tersebut rasional dan bermakna
(2) adanya kecenderungan terhadap konsistensi menyeluruh, dan penciptaan bentuk-bentuk struktural
(3) adanya sifat dinamik, misalnya adanya kecenderungan mengubah dan mengembangkan struktur tersebut (Yasa, 2012:28).

2.      Pengertian Teori Strukturalisme Genetik
Teori struktural bertujuan untuk memaparkan dengan cermat makna karya sastra secara menyeluruh. Pendekatan struktural adalah suatu pendekan yang menitik beratkan karya sastra sebagai suatu struktur yang otonom, yang kurang lebih terlepas dari hal-hal yang berada diluar karya sastra[3]. Pemahaman tentang hal diluar karya sastra, berangkat dari karya itu sendiri. Teori struktural ini dibutuhkan untuk mengetahui unsur-unsur berdasarkan paradigma pembangun struktur kebahasaannya  dan mengetahui pola strukturnya. Tujuan yang lain dari konsep teori struktural adalah untuk menjaga kritik Sastra agar tetap bekerja. Dalam teori struktural berkembang dan dibagi menjadi teori strukturalisme formalis,  strukturalisme dinamik, strukturalisme semiotik dan termasuk di dalamnya adalah teori strukturalisme genetik.
Strukturalisme genetik memasukan faktor genetik dalam karya sastra, genetik sastra artinya asal usul karya sastra. Adapun faktor yang terkait dalam asal muasal karya sastra adalah pengarang dan kenyataan sejarah yang turut mengkondisikan saat karya sastra itu diciptakan. Secara definitif strukturalisme-genetik adalah analisis struktur dengan memberikan perhatian terhadap asal usul karya. Secara ringkas berarti bahwa strukturalisme-genetik sekaligus memberikan perhatian terhadap analisis intrinsik dan ekstrinsik[4]. Strukturalisme genetik memandang karya sastra dari dua sudut yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Karya sastra tidak hanya sekedar imajinatif dan pribadi, melainkan merupakan cerminan atau rekaan budaya, suatu perwujudan pikiran tertentu saat karya dilahirkan. Studi awal dari kajian unsur intrinsik sebagai data dasarnya, selanjutnya peneliti akan menghubungkan berbagai unsur tersebut dengan realitas masyarakat.
Strukturalisme genetik mencoba untuk memperbaiki kelemahan pendekatan Strukturalisme, yaitu dengan memasukkan faktor genetik di dalam memahami karya sastra. Strukturalisme Genetik sering juga disebut strukturalisme historis, yang menganggap karya sastra khas dianalisis dari segi historis. Goldmann bermaksud menjembatani jurang pemisah antara pendekatan strukturalisme (intrinsik) dan pendekatan sosiologi (ekstrinsik).
Dari sudut pandang sosiologi sastra, strukturalisme genetik memiliki arti penting, karena menempatkan karya sastra sebagai data dasar penelitian, memandangnya sebagai suatu sistem makna yang berlapis-lapis yang merupakan suatu totalitas yang tak dapat dipisah-pisahkan[5]. Hakikatnya karya sastra selalu berkaitan dengan masyarakat dan sejarah yang turut mengkondisikan penciptaan karya sastra, walaupun tidak sepenuhnya di bawah pengaruh faktor luar tersebut. Menurut Goldmann, struktur itu bukanlah sesuatu yang statis, melainkan merupakan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses strukturasi dan destrukturasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat asal karya sastra yang bersangkutan[6]. Arti karya sastra dapat dipahami dalam konteks sosial masyarakat yang melatarbelakanginya. Di sinilah strukturalisme genetik berkaitan dengan sosiologi karena pemaknaan struktur karya sastra ditempatkan dalam struktur masyarakat (Kurniawan, 2012:104).
Untuk menopang teorinya tersebut Goldmann membangun seperangkat kategori yang saling bertalian satu sama lain sehingga membentuk apa yang disebut sebagai strukturalisme genetik di atas. Kategori-kategori itu adalah fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan[7]:
Ø  Fakta Kemanusiaan
            Fakta kemanusiaan adalah segala hasil aktifitas atau perilaku manusia baik yang verbal maupun yang fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan. Fakta ini dapat berwujud aktifitas sosial tertentu, aktivitas politik tertentu, maupun kreasi kultural seperti filsafat, seni rupa, seni patung, dan seni sastra. Fakta-fakta kemanusiaan pada hakikatnya dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu fakta individual dan fakta sosial. Fakta yang kedua mempunyai peranan penting dalam sejarah, sedangkan fakta yang pertama tidak memiliki hal itu. Goldmann menganggap bahwa semua fakta kemanusiaan merupakan suatu struktur yang berarti. Yang dimaksudkannya adalah bahwa fakta-fakta itu sekaligus mempunyai struktur tertentu dan arti tertentu. Oleh karena itu, pemahaman mengenai fakta-fakta kemanusiaan harus mempertimbangkan struktur dan artinya. Goldman juga mengatakan bahwa fakta-fakta kemanusiaan mempunyai arti karena merupakan respon-respon dari subjek kolektif atau individual, pembangunan suatu percobaan untuk memodifikasi situasi yang ada agar cocok bagi aspirasi-aspirasi subjek itu. Dengan kata lain, fakta-fakta itu merupakan hasil usaha manusia mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungannya dengan dunia sekitar .
Ø  Subjek kolektif
            Subjek kolektif adalah subjek yang berparadigma dengan subjek fakta sosial (historis). Subjek ini juga disebut subjek trans individual. Goldmann mengatakan revolusi sosial, politik, ekonomi, dan karya-karya kultural yang besar, merupakan fakta sosial (historis). Individu dengan dorongan libidonya tidak akan mampu menciptakannya. Yang dapat menciptakannya hanya subjek transindividual. Subjek transindividual adalah subjek yang mengatasi individu, yang didalamnya individu hanyalah merupakan bagian. Subjek trans individual adalah kumpulan individu-individu yang tidak berdiri sendiri-sendiri, merupakan satu kesatuan, satu kolektivitas.
Ø  Struktur Karya Sastra
            Struktur karya sastra, dalam hal ini roman, tetap menjadi sesuatu yang penting. Struktur roman merupakan hal pokok yang harus diketahui dan dianalisis lebih dulu sebelum menganalisis pandangan dunia pengarang. Struktur roman adalah hal-hal pokok dalam roman yang meliputi unsur-unsur intrinsiknya. Di dalam eseinya yang berjudul The Epistemology of Sociology, Goldmann mengemukakan dua pendapat mengenai karya sastra pada umumnya yaitu pertama bahwa karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner. dan kedua bahwa dalam usahanya dalam mengekspresikan pandangan dunia itu pengarang menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek, dan relasirelasi secara imajiner . Dengan mengemukakan dua hal tersebut Goldmann dapat membedakan karya sastra dari filsafat dan sosiologi. Menurutnya filsafat mengekspresikan pandangan dunia secara konseptual, sedangkan sosiologi mengacu pada empirisitas.
            Dalam eseinya yang berjudul The Sociology of Literature: Status and Problem Method Goldmann mengatakan bahwa dalam hampir seluruh karyanya penelitian dipusatkan pada elemen kesatuan, pada usaha menyingkapkan struktur yang koheren dan terpadu yang mengatur keseluruhan semesta karya sastra.
Ø  Pandangan Dunia
            Goldmann berpendapat, karya sastra sebagai struktur bermakna itu akan mewakili pandangan dunia (vision du monde) penulis, tidak sebagai individu melainkan sebagai anggota masyarakat[8]. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa strukturalisme genetik merupakan penelitian sastra yang menghubungkan antara struktur sastra dengan struktur masyarakat melalui pandangan dunia atau ideologi yang diekspresikannya. Oleh karena itu, karya sastra tidak akan dapat dipahami secara utuh jika totalitas kehidupan masyarakat yang telah melahirkan teks sastra diabaikan begitu saja. Pengabaian unsur masyarakat berarti penelitian sastra menjadi pincang.
Pandangan dunia adalah kerucutisasi ide-ide, gagasan-gagasan dari suatu kelompok sosial tertentu dan dipertentangkan dengan ide-ide, gagasan-gagasan kelompok sosial lainnya.
            Pandangan dunia menurut Goldmann adalah istilah yang cocok bagi kompleks menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan-perasaan, yang menghubungkan secara bersama-sama anggotaanggota suatu kelompok sosial tertentu dan yang mempertentangkannyadengan kelompok-kelompok sosial lain. Sebagai suatu kesadaran kolektif, pandangan dunia itu berkembang sebagai hasil dari situasi sosial dan ekonomik tertentu yang dihadapi subjek kolektif yang memilikinya.

3.       Penerapan terhadap pendekatan strukturalisme genetik

Penerapan terhadap pendekatan strukturalisme genetik ini dapat dilakukan dengan dimulai dari kajian unsur-unsur intrinsik sastra, baik secara parsial maupun kajian keseluruhan. Kemudian mengkaji latar belakang kehidupan sosial kelompok pengarang karena ia merupakan bagian dari komunitas masyarakat tertentu. Di samping itu tidak luput juga untuk mengkaji latar belakang sosial dan sejarah yang turut mengondisikan karya sastra saat ia diciptakan oleh pengarang. Dan akhir dari kegiatan ini, adalah berhasil untuk mengungkap pandangan dunia pengarang tersebut.

4. Kelebihan dan kekurangan strukturalisme genetik

Strukturalisme genetik dikembangkan atas dasar penolakan terhadap analisis strukturalisme murni yang menganalisis karya sastra terhadap struktur intrinsik saja, strukturalisme genetik melangkah lebih jauh ke struktur sosial dan karya sastra dapat dipahami dari asalnya dan terjadinya (unsur genetik) dan latar belakang sosial tertentu. Keunggulan dalam pendekatan ini yaitu adanya pemahaman hubungan karya dengan lingkungan sosialnya, Pendekatan ini dianggap sebagai satu-satunya pendekatan yang mampu merekonstruksikan pandangan dunia pengarang. Adapun kelemahannya yaitu harus memahami betul karakter pengarang dalam karya-karya sastranya. Unsur intrinsik dan Ekstrinsik pada pendekatan struktural genetik. Misal pada puisi yaitu, unsur intrinsik meliputi: Diksi, ritme, pengimajian, tema, dan amanat. Sedangkan unsur ekstrinsik meliputi: Biografi pengarang dan hubungan karya sastra dengan kondisi sosial masyarakat pada saat karya sastra itu lahir. Berikut contoh puisi yang akan dianalisis dengan pendekatan strukturalisme genetik:

AKU

        KaryaChairilAnwar

        Kalau sampai waktuku
         ‘Ku mau tak seorang ’kan merayu
          Tidak juga kau
          Tak perlu sedu sedan itu
         Aku ini binatang jalang
          Dari kumpulannya terbuang
         Biar peluru menembus kulitku
         Aku tetap meradang menerjang
          Luka dan bisa kubawa berlari
         Berlari
         Hingga hilang pedih perih
         Dan akuakan lebih tidak peduli
         Aku mau hidup seribu tahun lagi

                                                        Maret, 1943

A.    Unsur Intrinsik
1. Diksi
    Untuk ketepatan pemilihan kata sering kali penyair menggantikan kata yang dipergunakan berkali-kali yang dirasa belum tepat, diubah kata-katanya. Pada baris kedua bait pertama: “Ku mau tak seorang ’kan merayu” Merupakan pengganti dari kata “ku tahu”.
2. Ritme
Ritme dalam puisi yang berjudul AKU ini terdengar menguat karena ada  pengulangan bunyi (Rima) pada huruf vokal ‘U’ dan ‘I.

Vokal ‘U’ pada larik pertama dan kedua. Pengulangan berseling vokal a-u-a-u:
 larik pertama “Kalau sampai waktuku”
larik kedua “Ku mau tak seorang-’kan merayu”
larik ketiga “Tidak juga kau”.

Pengulangan vokal ‘I:
Luka dan bisa kubawa berlari,
Berlari  
Hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

4.      Pengimajian
‘Ku mau tak seorang ’kan merayu (Imaji Pendengaran)
Tak perlu sedu sedan itu (Imaji Pendengaran)
Biar peluru menembus kulitku (Imaji Rasa)
Hingga hilang pedih perih (Imaji Rasa)
5.      Tema
Tema dalam puisi AKU ini adalah perjuangan seperti pada baris keempat dan kelima.
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

6.      Amanat
• Manusia harus tegar, kokoh, terus berjuang, pantang mundur meskipun rintangan  menghadang.
• Manusia harus berani mengakui keburukan dirinya, tidak hanya menonjolkan kelebihannya saja.
• Manusia harus mempunyai semangat untuk maju dalam berkarya agar pikiran dan semangatnya itu dapat hidup selama-lamanya
B.     Unsur Ekstrinsik

1. Biografi Pengarang

•Chairil Anwar di Medan, 22 Juli 1922.
•Mulai muncul di dunia kesenian pada zaman Jepang.
•Dilihat dari esai-esai dan sajak-sajaknya terlihat bahwa ia seorang yang individualis  yang bebas dan berani dalam menentang lembaga sensor jepang.
•Chairil pun seorang yang mencintai tanah air dan bangsanya, hal ini tampak pada sajak-sajaknya: Diponegoro, Karawang-Bekasi, Persetujuan dengan Bung Karno, dll.

2. Hubungan Karya Sastra Dengan kondisi sosial masyarakat Pada Saat Karya Sastra Lahir.

·         Sajak AKU ini, banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial masyarakat pada zaman itu. Bahkan sebagai akibat dari lahirnya sajak AKU ini, Chairil Anwar ditangkap dan dipenjara oleh Kompetai Jepang. Hal ini karena sajaknya terkesan membangkang terhadap pemerintahan Jepang.
·         Sajak AKU ini ditulis pada tahun 1943, di saat jaman pendudukan Jepang
·         Kondisi masyarakat pada waktu itu sangat miskin dan menderita.
·         Bangsa Indonesia berada di bawah kekuasaan Jepang, tanpa mampu berbuat banyak untuk kemerdekannya.
·         Kerja paksa marak terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia.
·         Bangsa Indonesia menjadi budak di negaranya sendiri.


[1] Nur Chalima “Novel senja di jakarta sebuah analisis strukturalisme Genetik”, Skripsi (Surabaya : Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga) 1994.
[2] Faruk, Pengantar Sosiologi Sastra (Yogyakarta: Pustaka Pelajar) 1999, hal. 56
[3] A. Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra (Jakarta: Pustaka Jaya) 1984, hal. 36
[4] Nyoman Kutha Ratna, Paradigma Sosiologi Sastra (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), 2008, hal. 123
[5] Sapardi Djoko Damono, Sosiologi  Sastra Sebuah Pengantar Ringkas (Jakarta: Depdikbud) 1978, hal. 42
[6] Faruk, Pengantar Sosiologi Sastra (Yogyakarta: Pustaka Pelajar) 1999, hal. 12
[7] Ibid
[8] Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi (Yogyakarta: Pustaka Widyatama) 2003, hal. 57