Kamis, 15 November 2018

Uslub Surah Al-Infithar



BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar belakang
Bahasa Arab pertama sekali dikenal sebagai bahasa orang-orang di Jazirah Semenanjung Arabia, kemudian setelah datangnya Agama Islam dikenal pula sebagai bahasa agama sebab Al-Quran sebagai pedoman hidup kaum muslimin itu dituliskan dalam bahas Arab yang sangat indah susunan dan rangkaian kalimatnya.
            Keindahan gaya bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an karim memiliki faedah yang dapat kita selami untuk mengetahui makna dibalik kata-kata yang digunakannya.
            Salah satu surat-surat dalam Al-Qur’an yang menarik perhatian kami adalah surat Al-Infithar yang menggambarkan kejadian-kejadian pada hari kiamat, dan menerangkan keingkaran manusia kepada karunia Allah dan bahwa segala amal perbuatan mereka itu akan mendapat pembalasan. Kali ini akan kami kupas kajian uslub yang digunakan dalam surat Al-Infithar ini
  1. Rumusan Masalah
1.      Bagaimana bentuk dan asbabun nuzul surat Al-Infithar?
2.      Bagaimana bentuk dan makna uslub yang digunakan dalam surat Al-Infithar?
  1. Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui bentuk dan asbabun nuzul surat Al-Infithar
2.      Untuk mengetahui bentuk dan makna uslub yang digunakan dalam surat Al-Infithar



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sekilas tentang surat Al-Infithar
Surat Al Infithaar (pecah belah) yang diambil dari ayat pertama surat tersebut, turunnya sebelum Rasulullah SAW berhijrah ke madinah dan termasuk surat makiyyah. Surat ini merupakan surat ke-82 dari segi perurutan turunnya. Ia turun sesudah surat an-Naziat dan sebelum surat al-Insyiqaq. Jumlah ayat-ayatnya menurut cara perhitungan semua ulama adalah 19 ayat. Surat ini menguraikan tentang gambaran alam pada hari kiamat. Imam At-Tirmidzi dan imam Ahmad mengatakan: Barang siapa ingin melihat hari kiamat bagaikan melihat dengan pandangan mata kepala, maka hendaklah dia membaca At-Takwir, Al-Infithar, Al-Insyiqaq.[1] Selain itu, tujuan surat ini adalah memperingatkan agar manusia tidak larut dalam kegiatan yang buruk, karena mengandalkan kebaikan dan kemurahan Allah SWT. sambil melupakan adanya hari kebangkitan, dimana manusia akan dituntut mempertanggungjawabkan amal-amalnya sekecil apapun, dan ketika itu tidak ada seorangpun yang dapat membantu orang lain.
Surat Al-Infithar
إذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ (١) وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ (٢) وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ (٣) وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ (٤) عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ (٥ (يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ (٦) الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ (٧) فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ )٨ ( كَلا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ (٩) وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (١٠) كِرَامًا كَاتِبِينَ (١١) يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ )١٢  (إِنَّ الأبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (١٣) وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ (١٤ (يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ (١٥) وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَائِبِينَ (١٦ (وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ (١٧) ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ (١٨) يَوْمَ لا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالأمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ (١٩ (

Terjemah Surat Al-Infithar
1.      Apabila langit terbelah
2.      dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan
3.      dan apabila lautan dijadikan meluap
4.      dan apabila kuburan-kuburan dibongkar
5.      (maka) setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya
6.      Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pengasih
7.      Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang
8.      dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun tubuhmu
9.      Sekali-kali jangan begitu! Bahkan kamu mendustakan hari pembalasan
10.  Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu)
11.  Yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu)
12.  Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.
13.  Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan,
14.  dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka
15.  Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.
16.  Dan mereka tidak mungkin keluar dari neraka itu.
17.  Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?
18.  Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?
19.  (Yaitu) pada hari (ketika) seseorang tidak berdaya (menolong) orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah
Asbabun Nuzul Surat Al-Infithar
Turunnya surat ini yakni sebelum Rasulullah SAW. Berhijrah ke madinah. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ubay bin Khalaf yakni seorang tokoh/ pembesar Quraisy yang kaya raya, yang selalu aktif mengejek dan menghina Muhammad SAW. dengan kekayaannya yang mengingkari hari ba’ts (yaumul qiyamah)[2]. Ayat ini merupakan teguran kepada orang yang tidak percaya kepada ketentuan Allah.
B.     Bentuk Dan Makna Uslub Surat Al-Infithar

Adapun keindahan-keindahan yang ada dalam surat ini kami analisis dalam beberapa bentuk uslub, antara lain: 1) Jumlah dan pelengkap jumlah, 2) Bentuk-bentuk ungkapan dalam al-qur’an, 3) At-taqdim wa at-ta’khir (mendahulukan atau mengakhirkan kata/kalimat), 4) Diksi atau pemilihan kata, 5) Munasabah antar ayat/ antar surat, 6) Kajian balaghah.

Berikut pemaparan analisis bentuk dan makna dalam surat Al-Infithar:

1.      Jumlah dan Pelengkap Jumlah

Dalam ayat-ayat al-qur’an beberapa diantaranya terdapat pelengkap jumlah yang memiliki fungsi masing-masing, berikut ulasannya:

No.
Lafadz ayat
Jenis jumlah
Pelengkap jumlah
Fungsi pelengkap jumlah
5
عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ
Jumlah fi’liyah tam
مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ
Untuk menjelaskan apa yang diketahui manusia, yakni sesuatu yang dikerjakan maupun yang dilalaikan manusia.
6
يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ
Jumlah fi’liyah tam
بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ
Untuk menjelaskan objek yang didurhakai, yakni tuhan yang maha pengasih.
8
فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ
Jumlah fi’liyah tam
فِي أَيِّ صُورَةٍ
Untuk menjelaskan bentuk tubuh yang dikehendaki Allah dalam menciptakan makhluknya
9
كَلا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ
Jumlah fi’liyah tam
بِالدِّينِ
Untuk menjelaskan sesuatu yang didustakan oleh manusia
10
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ
Jumlah ismiyah tam
عَلَيْكُمْ
Untuk menjelaskan objek yang dijaga malaikat.
12
يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
Jumlah fi’liyah tam
مَا تَفْعَلُونَ
Untuk menjelaskan sesuatu yang diketahui malaikat
15
يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ
Jumlah fi’liyah tam
يَوْمَ الدِّينِ
Untuk menjelaskan waktu masuk neraka bagi orang-orang durhaka
16
وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَائِبِينَ
Jumlah ismiyah tam
عَنْهَا
Referensi yang menjelaskan tempat dimana orang-orang durhaka tersebut tidak bisa keluar lagi
17
وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ
Jumlah fi’liyah tam
مَا يَوْمُ الدِّينِ
Untuk menjelaskan sesuatu yang ditanyakan.
18
ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ
Jumlah fi’liyah tam
مَا يَوْمُ الدِّينِ
Untuk menjelaskan sesuatu yang ditanyakan.
19
يَوْمَ لا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا
Jumlah ismiyah tam
لِنَفْسٍ شَيْئًا
Untuk menjelaskan orang yang ditolong
وَالأمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ
Jumlah ismiyah tam
يَوْمَئِذٍ
Untuk menjelaskan ketika segala urusan dalam kekuasaan Allah

2.      Bentuk-bentuk ungkapan dalam al-qur’an
ü  Ungkapan رَبّ dengan كَرِيمِ
Kata “كَرِيمِ“ yang menyifati Allah dalam Al-Qur,’an ditemukan sebanyak tiga kali, yang kesemuanya menunjuk kepada-Nya dengan kata “رَبّ“, bukan yang lainnya. Hikmah dibalik penyifatan ungkapan ini adalah bahwa anugerah dan kemurahan-Nya selalu bersamaan dan memiliki tujuan untuk perbaikan, pendidikan, dan pemeliharaan.
ü  Lafadz مَا pada kata يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ
Ungkapan ini mengandung uslub ta’ajjub dengan menggunakan pola wazan fiil ta’ajjub tsulasy mujarrod bertujuan untuk menyampaikan alangkah terlalunya manusia yang selalu berbuat durhaka kepada Allah, sedang Ia maha pengasih.
ü  Kata كَلا  dan بَل
Kata “بَلْ” merupakan perpindahan dari ancaman yang dikandung “كَلا” menjadi kecaman, seakan-akan menyatakan bahwa pendurhaka tersebut tidak memperhatikan ancaman itu, bahkan berani melakukan hal yang lebih buruk lagi, yaitu mendustakan hari pembalasan, menolak kebenaran Al-Qur’an dan tuntutan nabi SAW.
ü  Lafadz مَا pada kata مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ
Ungkapan ini mengandung uslub istifham dengan menggunakan kata “مَا” yang serupa dengan "هل" namun tidak bertujuan untuk mendapatkan  jawaban, hanya berfungsi untuk menarik perhatian pada sesuatu yang dahsyat, besar, mulia, dan tidak tahu kapan terjadinya selain Allah Swt.
ü  Kata مَا أَدْرَاكَ
Adalah ungkapan yang digunakan al-Qur’an untuk menggambarkan kehebatan sesuatu yang sangat sulit dijangkau hakikatnya. Karena kata ini biasanya dikaitkan dengan alam metafisika seperti surga, neraka, juga hal-hal yang luar biasa seperti lalilatul qadr dan al-‘Aqabah[3].
ü  Pengulangan kalimat مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ sampai dua kali
“Dan tahukah engkau, apakah Hari Pembalasan itu?” pertanyaan pertama ini diikuti lagi oleh pertanyaan kedua. Diulang-ulangkan pertanyaan yang serupa sampai dua kali, untuk menarik perhatian petutur betapa hebatnya peristiwa hari itu, selain itu juga memiliki maksud untuk membuat jelas pentingnya subyek masalah dan juga untuk menyoroti kengerian dan agungnya hari Keputusan itu.
ü  Pengulangan kata إِنَّ pada ayat 10, 13, dan 14
Pengulangan إِنَّ pada pada ayat-ayat tersebut mentaukidkan bahwa sesungguhnya adanya hari kiamat ini telah diketahui sebagian besar manusia, namun mereka tetap saja tidak menghiraukannya. Padahal seharusnya manusia tersinggung dengan penekanan informasi yang sebenarnya telah mereka ketahui tersebut.

3.      At-taqdim wa At-ta’khir
Uslub ini menunjukkan lafadz-lafadz yang seharusnya berada di akhir kalimat akan tetapi ditempatkan di awal kalimat, begitu pula sebaliknya. uslub ini terbagi menjadi 2 pembagian, yaitu: 1) mendahulukan suatu lafadz atas amilnya, dan 2) mendahulukan suatu lafadz tanpa adanya hubungan amil[4]. Berikut At-taqdim wa At-ta’khir dalam surat Al-Infithar:
a.       Mendahulukan suatu lafadz atas amilnya
No
Kalimat
Bentuk taqdim/ta’khir
Fungsi/hikmah
1
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (١٠)
Mendahulukan khobar dari mubtada’
Untuk pengkhususan & penekanan informasi tentang keterangan
2
وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَائِبِينَ (١٦(
Mendahulukan keterangan dari khobar
Untuk pengkhususan & penekanan informasi tentang keterangan
3
وَالأمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ (١٩ (
Mendahulukan keterangan dari khobar
Untuk pengkhususan & penekanan informasi tentang keterangan waktu
b.      Mendahulukan suatu lafadz tanpa adanya hubungan amil
No.
Kalimat
Lafadz-lafadz yang dita’khirkan
Bentuk taqdim atau ta’khir
Fungsi/hikmah
1
إذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ (١)
وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ (٢) وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ (٣) وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ (٤)
Mendahulukan ayat pertama dari ayat kedua, ketiga, dan keempat
Menekankan perhatian pada ayat pertama dari lainnya
2
قَدَّمَتْ (٥
وَأَخَّرَتْ
Mendahulukan kata قَدَّمَتْ dariأَخَّرَتْ
Karena lafadz pertama selain dipahami sebagai yang ditunaikan, bisa juga dipahami sebagai pemahaman atas apa yang dikerjakan pada usia muda, kemudian disebutkan kata kedua yang dipahami sebagai pengetahuan di usia tua[5].
3
خَلَقَكَ (٧)
فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ
Mendahulukan kata menciptakan dari kata menyempurnakan dan menjadikan seimbang
Menekankan perhatian kata pertama dari 2 kata lainnya.
4
إِنَّ الأبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (١٣)
وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ (١٤ (
Mendahulukan penyebutan surga dari neraka
Menekankan perhatian pada ayat 13 dari ayat 14, karena hukum dasar (sifat dasar) yang dimiliki manusia adalah baik.

4.      Diksi atau pemilihan kata
ü  Kata انْفَطَرَتْ menggunakan fiil madzi, bukannya isim ((منفطرة
 Kata ini menggunakan fi’il madli karena penggunaan fi’il madli ini untuk menyebutkan peristiwa yang belum terjadi, dan peristiwa itu pasti akan terjadi, tidak dapat ditawar. Sedangkan bila menggunakan kalimat isim, maka peristiwa terbelah itu terus menerus sebagaimana faedah dari penggunaan kalimat isim.
ü  Kata بُعْثِرَ
Kata ini diambil dari kata بَعْثَرَ (ba’tsara) yang berasal dari kata بَعَثَ (ba’atsa) ditambah dengan huruf ra’ sehingga memiliki arti membangkitkan disertai dengan mengacak, sehingga dalam dan luarnya terbalik dan terbongkar sedemikian rupa. Pembongkaran/ keterbongkaran itu boleh jadi akibat ledakan dahsyat sebagaimana ayat sebelumnya, namun bisa juga suatu peristiwa tersendiri yang terjadi pada hari kiamat yang panjang dan beraneka peristiwa itu.
ü  Kata عَلِمَتْ
Dipilih untuk menggambarkan pengetahuan sesuatu yang sedemikian jelas dan terungkaplah hal-hal yang sekecil apapun. yang dimaksud adalah mengetahui sesuatu yang belum diketahui sebelum ini, dan mengingat apapun yang telah dilupakan. Tidak luput satupun.
ü  Kata مَا قَدَّمَتْ  
Adalah apa yang dikerjakan pada usia muda/ selama ini dan kata أَخَّرَتْ adalah yang dikerjakan pada usia tua atau yang dikerjakan menjadi adat kebiasaan yang diikuti oleh orang lain atau generasi sesudahnya.bahwa baru ketika itu manusia mengetahui apa yang telah dikerjakan dan dilakukannya.
ü  Pemilihan kata نَفْسٌ daripada بشر / إنسان
Kata نَفْسٌ pada ayat ke 5 yang memiliki arti jiwa lebih dipilih untk digunakan dalam ayat ini karena jiwa tidak akan bisa berbohong, dia senantiasa murni sebagaimana awal penciptaannya.
ü  Kata غَرَّكَ
Kata غَرَّكَ (gharraka) terambil dari kata “غَرّرَ” (gharrara) yakni memandang baik perbuatan yang buruk atau merasa bahwa kesalahan akan terampuni, atau memperdaya. Kata ma dapat berarti apakah dan alangkah, yakni alangkah durhakamu terhadap Tuhan.
ü  Kata رَبّ
Kata-kata yang bersumber dari akar kata yang sama dengan ” رَبّ “ (rabb) memiliki arti yang berbeda-beda namun pada akhirnya mengacu pada makna pengembangan, peningkatan, ketinggian, kelebihan, dan perbaikan. Selain itu juga mencakup seluruh perbuatan-perbuatan tuhan seperti memberi rizki, ganjaran, pengampunan, siksaan, karena sanksi dan hukuman-hukumannya tidak terlepas dari pemeliharaan dan pendidikan itu.
ü  Kata فَعَدَلَكَ
Berasal dari kata “عَدَلَ” yang berarti seimbang, memiliki arti seimbang dalam hal penciptaan anggota tubuh manusia sehingga tampak serasi.
ü  Kata صُورَةٍ
Kata صُورَةٍ pada ayat ke-8 ini berarti bentuk, yakni Allah SWT. Menyusun tubuh manusia dalam segala bentuk yang Dia kehendaki. Penggunaan kata صُورَةٍ ini dikarenakan bentuk yang dimaksud adalah berupa 3 dimensi.
ü  Kata عَلَيْ
Pada lafadz عَلَيْكُمْ yang berarti di atas, dalam hal ini yang di atas berarti lebih menguasai siapa yang dibawahnya. Ini mengisyaratkan betapa besar penguasaan malaikat dan pengendaliannya itu.
ü  Kata أبْرَارَ
Kata ini adalah bentuk jamak dari kata “بار” yang berarti kebenaran, dari sini lahir makna ketaatan, karena orang yang taat membenarkan siapa yang memerintahkan dalam segala hal.
ü  Kata نَعِيمٍ
Kata نَعِيمٍ yakni berarti kenikmatan di dunia dalam bentuk syuhud, yakni merasakan kehadiran Allah dan menyaksikan-Nya dengan mata hati, serta kenikmatan akhirat dalam aneka bentuk yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
ü  Pemilihan kata يَصْلى dari دخل
Kata يَصْلى dalam surat ini memiliki arti memasuki, sama halnya dengan kata دخل. Pemilihan diksi يَصْلى dalam surat ini lebih tepat digunakan karena maknanya lebih sesuai, yaitu ada pengkhususan masuk ke dalam neraka, seperti halnya lafadz يَصْلى lainnya dalam berbagai macam bentuk yang artinya dikhususkan masuk pada neraka[6]. sedangkan kata دخل lebih umum penggunaannya.


5.      Munasabah antar ayat/ antar surat,
·         Hubungan Surat Ini dengan Surat Al Muthaffifiin

      Dalam surat Al Infithaar ini Allah menjelaskan adanya malaikat yang menjaga dan mencata amal perbuatan manusia, lalu pada Surat Al Muthaffifiin dijelaskan lagi tentang buku catatan itu. Selain itu, dalam surat Al Infithaar ini secara singkat diterangkan dua golongan manusia pada hari kiamat yaitu orang-orang yang berbuat kebajikan dan orang-orang yang durhaka. Maka dalam surat Al Muthaffifiin diuraikan lebih luas keadaan dan sifat kedua golongan manusia itu.

·         Hubungan surat ini dengan surat At-Takwir
Tema utama surat ini sebagaimana surat at-takwir yang antara lain membicarakian tentang hari kiamat dan kehancuran alam raya serta balasan ganjaran manusia. Hanya saja pada surat at-takwir ditemukan penjelasan tentang kesucian al-Quran, kekuatan dan amanah malaikat Jibril yang menurunkannya serta kebenaran Nabi Muhammad saw. Sedang pada surat ini manusia ditegur secara halus dan digugah hatinya untuk sadar dan ingat bahwa semua kegiatannya tercatat dan akan dituntut untuk dipertanggungjawqabkan kelak pada hari kebangkitan.
Akhir surat At-Takwir menegaskan kemutlakan kehendak Allah SWT. Dia juga yang menciptakan alam raya dan sistem kerjanya dan Dia juga menetapkan tujuan akhirnya, karena manusia adalah makhluq bertanggung jawab dan itu sepenuhnya akan terlaksanakan pada hari kemudian maka Sang Pencipta itu melaksanakan perhitungan tersebut setelah melumpuhkan sistem kerja alam raya dan memorak-morandakannya.

6.      Kajian balaghah.
Ø  Kalam insya’i
Terdapat pada ayat ke-6 yang berbunyi يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ, pada kata مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ ini termasuk kalam Insya’i Ghoiru At-Tholabi. Karena pertanyaan yang diajukan ini tidak bertujuan unttuk mendapatkan jawaban, namun untuk mengungkapkan alangkah terlalunya kalian sehingga berbuat durhaka kepada Allah yang senantiasa memberi kasih sayangnya.
Ø  Kinayah
Pada ayat 1-4 menggambarkan betapa hebat dan betapa dahsyat ihwal hari kiamat itu kelak, yakni ketika langit terbelah, bintang-bintang jatuh berserakan, lautan dijadikan meluap, dan kuburan-kuburan dibongkar. Semua gambaran itu memiliki makna tersirat yakni hari kiamat.
Ø  Majaz mursal
Pada ayat ke-13, kata “لَفِي نَعِيمٍ  yang berarti dalam kenikmatan maksudnya adalah dalam surga. Hal ini termasuk ithlaqul hal wa iradatul mahal yakni menyebutkan isi dari sesuatu, namun yang dimaksudkan adalah tempatnya.
Ø  Thibaq
Pada ayat ke-5 terdapat kata قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ, kedua kata tersebut saling berlawan yakni yang memiliki arti apa yang kamu tunaikan dan apa yang kamu lalaikan, atau apa yang kamu kerjakan di masa muda dan apa yang kamu kerjakan di masa tua. Dan kedua kata ini berada dalam satu kalimat.
Ø  Sajak
Sajak muthorrof terdapat pada ayat 3-5, yakni kata فُجِّرَتْ, بُعْثِرَتْ, أَخَّرَتْ yang ketiganya memiliki huruf akhir yang sama yakni huruf ro’ dan ta’. Namun wazannya berbeda
Sajak mutawazi terdapat pada ayat 1-2 (انْفَطَرَتْ dan انْتَثَرَتْ ), 10-11 (حَافِظِينَ dan كَاتِبِينَ), 13-14 (نَعِيمٍ  dan جَحِيمٍ) yakni memiliki huruf akhir yang sama, begitu pun dengan wazannya.
Ø  Washl
Yakni menggabungkan suatu kalimat dan kalimat sebelumnya dengan menggunakan huruf athaf. Dalam surat ini terdapat washal dari ayat 1-4, 8-9, dan 15-17.
Ø  Fashl
Yakni menggabungkan suatu kalimat dengan kalimat sebelumnya tanpa adanya huruf athaf. Fashl terdapat pada ayat 4 dan 5, bahwa ayat 5 tersebut menjelaskan ayat ke-4


Ø  Ta’adul
Yakni kalimat yang tertata secara sejajar, hal ini dapat kita jumpai pada ayat 1-5 yang diakhiri dengan kata رَتْ, 7-9 yang diakhiri dengan huruf كَ , dan 13-18 yang diakhiri dengan huruf ينِ. Adanya kesejajaran dalam setiap ayatnya membuat semakin indah untuk didengar.


BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Surat Al-infithar menjelaskan tentang betapa dahsyatnya gambaran alam pada hari kiamat esok. Dengan menggambarkan sedemikian rupa, manusia diharapkan takut dan mau mempersiapkan bekal untuk menghadapi hari tersebut. Namun sebaliknya manusia malah larut dalam kegiatan yang buruk, mereka mengandalkan kebaikan dan kemurahan Allah SWT atas apa yang mereka lakukan. Selain itu berbagai macam ungkapan dan gaya bahasa yang ada dalam surat ini juga mendukung dalam penggambaran alam di hari pembalasan, dan peringatan terhadap manusia.

B.     Daftar Pustaka

Shihab, Quraish, Tafsir Al-Mishbah: pesan, kesan, dan keserasian dalam Al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2002
Shaleh, KHQ dkk, Asbabun Nuzul, Bandung: Diponegoro, 1990
Ad-Darwisy, Muhyiddin, I’rab Al-Qur’an Al-Karim, Suriah: Dar Al-Irsyad Lis-Syu’un Al-Jami’ah, 1992
Fuad, Muhammad Abdul Baihaqi, Al-Mu’jam Al-Mufahros, Mesir: Darul Hadist


[1] M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah: pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an, vol. 15 (Jakarta: lentera hati), 2002, hal. 101
[2] KHQ Shaleh, HAA Dahlan, HMD Dahlan, asbabunnuzul, (Bandung : Diponegoro), 1990
[3] M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah: pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an, vol. 15 (Jakarta: lentera hati), 2002, hal. 114
[4] Muhyiddin ad-darwisy, I’rab Al-Qur’an Al-Karim jilid 10, (Suriah: Dar Al-Irsyad Lis-Syu’un Al-Jami’ah) 1992, hal. 461
[5] M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah: pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an, vol. 15 (Jakarta: lentera hati), 2002, hal. 114
[6] Muhammad abdul baihaqi fuad, Al-Mu’jam Al-Mufahros, (Mesir: Darul Hadist), hal.427

Tidak ada komentar:

Posting Komentar