BAB I
PENDAHULUAN
- Latar belakang
Bahasa Arab pertama sekali
dikenal sebagai bahasa orang-orang di Jazirah Semenanjung Arabia, kemudian
setelah datangnya Agama Islam dikenal pula sebagai bahasa agama sebab Al-Quran
sebagai pedoman hidup kaum muslimin itu dituliskan dalam bahas Arab yang sangat
indah susunan dan rangkaian kalimatnya.
Keindahan gaya bahasa
yang digunakan dalam Al-Qur’an karim memiliki faedah yang dapat kita selami
untuk mengetahui makna dibalik kata-kata yang digunakannya.
Salah satu
surat-surat dalam Al-Qur’an yang menarik perhatian kami adalah surat
Al-Infithar yang menggambarkan kejadian-kejadian pada
hari kiamat, dan menerangkan keingkaran manusia kepada karunia Allah dan bahwa
segala amal perbuatan mereka itu akan mendapat pembalasan. Kali ini
akan kami kupas kajian uslub yang digunakan dalam surat Al-Infithar ini
- Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
bentuk dan asbabun nuzul surat Al-Infithar?
2.
Bagaimana
bentuk dan makna uslub yang digunakan dalam surat Al-Infithar?
- Tujuan Penulisan
1.
Untuk
mengetahui bentuk dan asbabun nuzul surat Al-Infithar
2.
Untuk
mengetahui bentuk dan makna uslub yang digunakan dalam surat Al-Infithar
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sekilas
tentang surat Al-Infithar
Surat Al
Infithaar (pecah belah) yang diambil dari ayat pertama surat tersebut, turunnya
sebelum Rasulullah SAW berhijrah ke madinah dan termasuk surat makiyyah. Surat
ini merupakan surat ke-82 dari segi perurutan turunnya. Ia turun sesudah surat
an-Naziat dan sebelum surat al-Insyiqaq. Jumlah ayat-ayatnya menurut cara
perhitungan semua ulama adalah 19 ayat. Surat ini menguraikan tentang gambaran
alam pada hari kiamat. Imam At-Tirmidzi dan imam Ahmad mengatakan: Barang
siapa ingin melihat hari kiamat bagaikan melihat dengan pandangan mata kepala,
maka hendaklah dia membaca At-Takwir, Al-Infithar, Al-Insyiqaq.[1]
Selain itu, tujuan surat ini adalah memperingatkan agar manusia tidak larut
dalam kegiatan yang buruk, karena mengandalkan kebaikan dan kemurahan Allah
SWT. sambil melupakan adanya hari kebangkitan, dimana manusia akan dituntut
mempertanggungjawabkan amal-amalnya sekecil apapun, dan ketika itu tidak ada
seorangpun yang dapat membantu orang lain.
Surat Al-Infithar
إذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ (١) وَإِذَا الْكَوَاكِبُ
انْتَثَرَتْ (٢) وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ (٣) وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ
(٤) عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ (٥ (يَا
أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ (٦) الَّذِي خَلَقَكَ
فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ (٧) فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ )٨ ( كَلا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ (٩) وَإِنَّ
عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (١٠) كِرَامًا كَاتِبِينَ (١١) يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ )١٢ (إِنَّ الأبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (١٣) وَإِنَّ
الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ (١٤ (يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ (١٥) وَمَا هُمْ عَنْهَا
بِغَائِبِينَ (١٦ (وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ (١٧) ثُمَّ مَا
أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ (١٨) يَوْمَ لا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا
وَالأمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ (١٩ (
Terjemah Surat
Al-Infithar
1.
Apabila langit terbelah
2.
dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan
3.
dan apabila lautan dijadikan meluap
4.
dan apabila kuburan-kuburan dibongkar
5.
(maka) setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang
dilalaikannya
6.
Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka)
terhadap Tuhanmu Yang Maha Pengasih
7.
Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan
(susunan tubuh)mu seimbang
8.
dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun tubuhmu
9.
Sekali-kali jangan begitu! Bahkan kamu mendustakan hari pembalasan
10.
Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi
(pekerjaanmu)
11.
Yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu)
12.
Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.
13.
Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang
penuh) kenikmatan,
14.
dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka
15.
Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.
16.
Dan mereka tidak mungkin keluar dari neraka itu.
17.
Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?
18.
Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?
19.
(Yaitu) pada hari (ketika) seseorang tidak berdaya (menolong) orang lain.
Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah
Asbabun Nuzul Surat Al-Infithar
Turunnya surat
ini yakni sebelum Rasulullah SAW. Berhijrah ke madinah. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ayat
ini turun berkenaan dengan Ubay bin Khalaf yakni seorang tokoh/ pembesar Quraisy
yang kaya raya, yang selalu aktif mengejek dan menghina Muhammad SAW. dengan
kekayaannya yang mengingkari hari ba’ts (yaumul
qiyamah)[2].
Ayat ini merupakan teguran kepada orang yang tidak percaya kepada ketentuan
Allah.
B.
Bentuk Dan Makna Uslub Surat Al-Infithar
Adapun keindahan-keindahan yang ada dalam surat ini kami analisis
dalam beberapa bentuk uslub, antara lain: 1) Jumlah dan pelengkap jumlah, 2) Bentuk-bentuk
ungkapan dalam al-qur’an, 3) At-taqdim wa at-ta’khir (mendahulukan atau
mengakhirkan kata/kalimat), 4) Diksi atau pemilihan kata, 5) Munasabah antar
ayat/ antar surat, 6) Kajian balaghah.
Berikut pemaparan analisis bentuk
dan makna dalam surat Al-Infithar:
1.
Jumlah dan Pelengkap Jumlah
Dalam ayat-ayat al-qur’an beberapa diantaranya terdapat pelengkap
jumlah yang memiliki fungsi masing-masing, berikut ulasannya:
No.
|
Lafadz ayat
|
Jenis jumlah
|
Pelengkap
jumlah
|
Fungsi pelengkap jumlah
|
5
|
عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ
|
Jumlah fi’liyah tam
|
مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ
|
Untuk menjelaskan apa yang diketahui
manusia, yakni sesuatu yang dikerjakan maupun yang dilalaikan manusia.
|
6
|
يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ
الْكَرِيمِ
|
Jumlah fi’liyah tam
|
بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ
|
Untuk menjelaskan objek yang didurhakai,
yakni tuhan yang maha pengasih.
|
8
|
فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ
|
Jumlah fi’liyah tam
|
فِي أَيِّ صُورَةٍ
|
Untuk menjelaskan bentuk tubuh yang
dikehendaki Allah dalam menciptakan makhluknya
|
9
|
كَلا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ
|
Jumlah fi’liyah tam
|
بِالدِّينِ
|
Untuk menjelaskan sesuatu yang didustakan
oleh manusia
|
10
|
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ
|
Jumlah ismiyah tam
|
عَلَيْكُمْ
|
Untuk menjelaskan objek yang dijaga
malaikat.
|
12
|
يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
|
Jumlah fi’liyah tam
|
مَا تَفْعَلُونَ
|
Untuk menjelaskan sesuatu yang diketahui
malaikat
|
15
|
يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ
|
Jumlah fi’liyah tam
|
يَوْمَ الدِّينِ
|
Untuk menjelaskan waktu masuk neraka bagi
orang-orang durhaka
|
16
|
وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَائِبِينَ
|
Jumlah ismiyah tam
|
عَنْهَا
|
Referensi yang menjelaskan tempat dimana
orang-orang durhaka tersebut tidak bisa keluar lagi
|
17
|
وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ
|
Jumlah fi’liyah tam
|
مَا يَوْمُ الدِّينِ
|
Untuk menjelaskan sesuatu yang ditanyakan.
|
18
|
ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ
|
Jumlah fi’liyah tam
|
مَا يَوْمُ الدِّينِ
|
Untuk menjelaskan sesuatu yang ditanyakan.
|
19
|
يَوْمَ لا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا
|
Jumlah ismiyah tam
|
لِنَفْسٍ شَيْئًا
|
Untuk menjelaskan orang yang ditolong
|
وَالأمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ
|
Jumlah ismiyah tam
|
يَوْمَئِذٍ
|
Untuk menjelaskan ketika segala urusan dalam
kekuasaan Allah
|
2. Bentuk-bentuk
ungkapan dalam al-qur’an
ü Ungkapan رَبّ
dengan كَرِيمِ
Kata “كَرِيمِ“ yang menyifati Allah
dalam Al-Qur,’an ditemukan sebanyak tiga kali, yang kesemuanya menunjuk
kepada-Nya dengan kata “رَبّ“, bukan yang lainnya.
Hikmah dibalik penyifatan ungkapan ini adalah bahwa anugerah dan kemurahan-Nya
selalu bersamaan dan memiliki tujuan untuk perbaikan, pendidikan, dan
pemeliharaan.
ü Lafadz مَا
pada kata يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ
بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ
Ungkapan ini mengandung
uslub ta’ajjub dengan menggunakan pola wazan fiil ta’ajjub tsulasy mujarrod bertujuan
untuk
menyampaikan alangkah terlalunya manusia yang selalu berbuat durhaka kepada
Allah, sedang Ia maha pengasih.
ü Kata كَلا dan بَل
Kata “بَلْ” merupakan
perpindahan dari ancaman yang dikandung “كَلا”
menjadi kecaman, seakan-akan menyatakan bahwa pendurhaka tersebut tidak
memperhatikan ancaman itu, bahkan berani melakukan hal yang lebih buruk lagi,
yaitu mendustakan hari pembalasan, menolak kebenaran Al-Qur’an dan tuntutan
nabi SAW.
ü Lafadz مَا
pada kata مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ
Ungkapan ini mengandung uslub istifham dengan menggunakan kata “مَا” yang serupa dengan "هل"
namun tidak bertujuan untuk mendapatkan jawaban, hanya berfungsi untuk menarik
perhatian pada sesuatu yang dahsyat, besar, mulia, dan tidak tahu kapan
terjadinya selain Allah Swt.
ü Kata مَا أَدْرَاكَ
Adalah ungkapan yang digunakan al-Qur’an untuk menggambarkan kehebatan
sesuatu yang sangat sulit dijangkau hakikatnya. Karena kata ini biasanya
dikaitkan dengan alam metafisika seperti surga, neraka, juga hal-hal yang luar
biasa seperti lalilatul qadr dan al-‘Aqabah[3].
ü Pengulangan kalimat مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ
الدِّينِ sampai dua kali
“Dan tahukah engkau, apakah Hari
Pembalasan itu?” pertanyaan pertama ini diikuti lagi oleh pertanyaan kedua.
Diulang-ulangkan pertanyaan yang serupa sampai dua kali, untuk menarik perhatian
petutur betapa hebatnya peristiwa hari itu, selain itu juga memiliki maksud untuk membuat jelas pentingnya subyek masalah dan juga
untuk menyoroti kengerian dan agungnya hari Keputusan itu.
ü Pengulangan kata إِنَّ
pada ayat 10, 13, dan 14
Pengulangan إِنَّ pada pada ayat-ayat tersebut mentaukidkan
bahwa sesungguhnya adanya hari kiamat ini telah diketahui sebagian besar
manusia, namun mereka tetap saja tidak menghiraukannya. Padahal seharusnya
manusia tersinggung dengan penekanan informasi yang sebenarnya telah mereka
ketahui tersebut.
3. At-taqdim wa At-ta’khir
Uslub ini
menunjukkan lafadz-lafadz yang seharusnya berada di akhir kalimat akan tetapi
ditempatkan di awal kalimat, begitu pula sebaliknya. uslub ini terbagi menjadi
2 pembagian, yaitu: 1) mendahulukan suatu lafadz atas amilnya, dan 2)
mendahulukan suatu lafadz tanpa adanya hubungan amil[4].
Berikut At-taqdim wa At-ta’khir dalam surat Al-Infithar:
a. Mendahulukan suatu lafadz atas amilnya
No
|
Kalimat
|
Bentuk
taqdim/ta’khir
|
Fungsi/hikmah
|
1
|
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (١٠)
|
Mendahulukan khobar dari mubtada’
|
Untuk pengkhususan & penekanan informasi tentang keterangan
|
2
|
وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَائِبِينَ (١٦(
|
Mendahulukan keterangan dari khobar
|
Untuk pengkhususan & penekanan informasi tentang keterangan
|
3
|
وَالأمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ (١٩ (
|
Mendahulukan keterangan dari khobar
|
Untuk pengkhususan & penekanan informasi tentang keterangan waktu
|
b. Mendahulukan suatu lafadz tanpa adanya hubungan amil
No.
|
Kalimat
|
Lafadz-lafadz
yang dita’khirkan
|
Bentuk taqdim
atau ta’khir
|
Fungsi/hikmah
|
1
|
إذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ (١)
|
وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ (٢) وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ (٣)
وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ (٤)
|
Mendahulukan ayat pertama dari ayat kedua, ketiga, dan keempat
|
Menekankan
perhatian pada ayat pertama dari lainnya
|
2
|
قَدَّمَتْ (٥
|
وَأَخَّرَتْ
|
Mendahulukan kata قَدَّمَتْ dariأَخَّرَتْ
|
Karena lafadz pertama selain dipahami sebagai yang ditunaikan, bisa juga
dipahami sebagai pemahaman atas apa yang dikerjakan pada usia muda, kemudian
disebutkan kata kedua yang dipahami sebagai pengetahuan di usia tua[5].
|
3
|
خَلَقَكَ (٧)
|
فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ
|
Mendahulukan
kata menciptakan dari kata menyempurnakan dan menjadikan seimbang
|
Menekankan
perhatian kata pertama dari 2 kata lainnya.
|
4
|
إِنَّ الأبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (١٣)
|
وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ (١٤ (
|
Mendahulukan
penyebutan surga dari neraka
|
Menekankan
perhatian pada ayat 13 dari ayat 14, karena hukum dasar (sifat dasar) yang
dimiliki manusia adalah baik.
|
4.
Diksi atau pemilihan kata
ü Kata انْفَطَرَتْ menggunakan fiil madzi, bukannya isim ((منفطرة
Kata ini menggunakan fi’il
madli karena penggunaan fi’il madli ini untuk menyebutkan peristiwa
yang belum terjadi, dan peristiwa itu pasti akan terjadi, tidak dapat ditawar.
Sedangkan bila menggunakan kalimat isim, maka peristiwa terbelah itu terus
menerus sebagaimana faedah dari penggunaan kalimat isim.
ü Kata بُعْثِرَ
Kata ini diambil dari kata بَعْثَرَ
(ba’tsara) yang berasal dari kata بَعَثَ
(ba’atsa) ditambah dengan huruf ra’ sehingga memiliki arti membangkitkan
disertai dengan mengacak, sehingga dalam dan luarnya terbalik dan terbongkar
sedemikian rupa. Pembongkaran/ keterbongkaran itu boleh jadi akibat ledakan
dahsyat sebagaimana ayat sebelumnya, namun bisa juga suatu peristiwa tersendiri
yang terjadi pada hari kiamat yang panjang dan beraneka peristiwa itu.
ü Kata عَلِمَتْ
Dipilih untuk menggambarkan pengetahuan sesuatu
yang sedemikian jelas dan terungkaplah
hal-hal yang sekecil apapun. yang dimaksud
adalah mengetahui sesuatu yang belum diketahui sebelum ini, dan mengingat
apapun yang telah dilupakan. Tidak luput satupun.
ü Kata مَا قَدَّمَتْ
Adalah apa yang dikerjakan pada usia muda/ selama ini
dan kata أَخَّرَتْ adalah yang dikerjakan pada usia tua atau yang
dikerjakan menjadi adat kebiasaan yang diikuti oleh orang lain atau generasi
sesudahnya.bahwa baru ketika itu manusia mengetahui apa yang telah dikerjakan
dan dilakukannya.
ü Pemilihan kata نَفْسٌ
daripada بشر / إنسان
Kata نَفْسٌ pada ayat ke 5
yang memiliki arti jiwa lebih dipilih untk digunakan dalam ayat ini karena jiwa
tidak akan bisa berbohong, dia senantiasa murni sebagaimana awal penciptaannya.
ü Kata غَرَّكَ
Kata غَرَّكَ (gharraka) terambil dari kata “غَرّرَ”
(gharrara) yakni memandang baik perbuatan yang buruk atau merasa bahwa
kesalahan akan terampuni, atau memperdaya. Kata ma dapat berarti apakah dan
alangkah, yakni alangkah durhakamu terhadap Tuhan.
ü Kata رَبّ
Kata-kata yang bersumber dari akar kata yang sama
dengan ” رَبّ “ (rabb) memiliki
arti yang berbeda-beda namun pada akhirnya mengacu pada makna pengembangan,
peningkatan, ketinggian, kelebihan, dan perbaikan. Selain itu juga mencakup seluruh
perbuatan-perbuatan tuhan seperti memberi rizki, ganjaran, pengampunan,
siksaan, karena sanksi dan hukuman-hukumannya tidak terlepas dari pemeliharaan
dan pendidikan itu.
ü Kata فَعَدَلَكَ
Berasal dari kata “عَدَلَ”
yang berarti seimbang, memiliki arti seimbang dalam hal penciptaan anggota
tubuh manusia sehingga tampak serasi.
ü Kata صُورَةٍ
Kata صُورَةٍ pada ayat ke-8 ini berarti bentuk, yakni Allah SWT. Menyusun
tubuh manusia dalam segala bentuk yang Dia kehendaki. Penggunaan kata صُورَةٍ ini dikarenakan bentuk yang dimaksud
adalah berupa 3 dimensi.
ü Kata عَلَيْ
Pada lafadz عَلَيْكُمْ yang berarti di atas, dalam hal ini
yang di atas berarti lebih menguasai siapa yang dibawahnya. Ini
mengisyaratkan betapa besar penguasaan malaikat dan pengendaliannya itu.
ü Kata أبْرَارَ
Kata ini adalah bentuk jamak dari kata “بار” yang berarti kebenaran, dari sini lahir
makna ketaatan, karena orang yang taat membenarkan siapa yang memerintahkan
dalam segala hal.
ü Kata نَعِيمٍ
Kata نَعِيمٍ yakni berarti
kenikmatan di dunia dalam bentuk syuhud, yakni merasakan kehadiran Allah
dan menyaksikan-Nya dengan mata hati, serta kenikmatan akhirat dalam aneka
bentuk yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
ü Pemilihan kata يَصْلى dari دخل
Kata يَصْلى dalam surat ini
memiliki arti memasuki, sama halnya dengan kata دخل.
Pemilihan diksi يَصْلى dalam surat ini lebih
tepat digunakan karena maknanya lebih sesuai, yaitu ada pengkhususan masuk ke
dalam neraka, seperti halnya lafadz يَصْلى
lainnya dalam berbagai macam bentuk yang artinya dikhususkan masuk pada neraka[6].
sedangkan kata دخل lebih umum
penggunaannya.
5.
Munasabah antar ayat/ antar surat,
·
Hubungan
Surat Ini dengan Surat Al Muthaffifiin
Dalam surat Al Infithaar ini Allah menjelaskan adanya malaikat yang menjaga dan mencata amal perbuatan manusia, lalu pada Surat Al Muthaffifiin dijelaskan lagi tentang buku catatan itu. Selain itu, dalam surat Al Infithaar ini secara singkat diterangkan dua golongan manusia pada hari kiamat yaitu orang-orang yang berbuat kebajikan dan orang-orang yang durhaka. Maka dalam surat Al Muthaffifiin diuraikan lebih luas keadaan dan sifat kedua golongan manusia itu.
·
Hubungan surat ini dengan surat
At-Takwir
Tema utama
surat ini sebagaimana surat at-takwir yang antara lain membicarakian tentang
hari kiamat dan kehancuran alam raya serta balasan ganjaran manusia. Hanya saja
pada surat at-takwir ditemukan penjelasan tentang kesucian al-Quran, kekuatan
dan amanah malaikat Jibril yang menurunkannya serta kebenaran Nabi Muhammad
saw. Sedang pada surat ini manusia ditegur secara halus dan digugah hatinya
untuk sadar dan ingat bahwa semua kegiatannya tercatat dan akan dituntut untuk
dipertanggungjawqabkan kelak pada hari kebangkitan.
Akhir surat
At-Takwir menegaskan kemutlakan kehendak Allah SWT. Dia juga yang menciptakan
alam raya dan sistem kerjanya dan Dia juga menetapkan tujuan akhirnya, karena
manusia adalah makhluq bertanggung jawab dan itu sepenuhnya akan terlaksanakan
pada hari kemudian maka Sang Pencipta itu melaksanakan perhitungan tersebut
setelah melumpuhkan sistem kerja alam raya dan memorak-morandakannya.
6.
Kajian balaghah.
Ø Kalam insya’i
Terdapat pada
ayat ke-6 yang berbunyi يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ, pada kata مَا
غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ ini termasuk kalam Insya’i Ghoiru
At-Tholabi. Karena pertanyaan yang diajukan ini tidak bertujuan unttuk
mendapatkan jawaban, namun untuk mengungkapkan alangkah terlalunya kalian
sehingga berbuat durhaka kepada Allah yang senantiasa memberi kasih sayangnya.
Ø Kinayah
Pada ayat 1-4 menggambarkan
betapa hebat dan betapa dahsyat ihwal hari kiamat itu kelak, yakni ketika langit terbelah, bintang-bintang jatuh
berserakan, lautan dijadikan meluap, dan kuburan-kuburan dibongkar. Semua
gambaran itu memiliki makna tersirat yakni hari kiamat.
Ø Majaz mursal
Pada ayat ke-13, kata “لَفِي
نَعِيمٍ” yang
berarti dalam kenikmatan maksudnya adalah dalam surga. Hal ini termasuk
ithlaqul hal wa iradatul mahal yakni menyebutkan isi dari sesuatu, namun yang
dimaksudkan adalah tempatnya.
Ø Thibaq
Pada ayat ke-5 terdapat kata قَدَّمَتْ
وَأَخَّرَتْ, kedua kata tersebut saling berlawan yakni yang memiliki arti
apa yang kamu tunaikan dan apa yang kamu lalaikan, atau apa yang kamu kerjakan
di masa muda dan apa yang kamu kerjakan di masa tua. Dan kedua kata ini berada
dalam satu kalimat.
Ø Sajak
Sajak muthorrof terdapat pada ayat 3-5, yakni kata فُجِّرَتْ,
بُعْثِرَتْ, أَخَّرَتْ yang ketiganya memiliki huruf akhir yang sama yakni huruf ro’ dan ta’.
Namun wazannya berbeda
Sajak mutawazi terdapat pada ayat 1-2 (انْفَطَرَتْ
dan انْتَثَرَتْ ), 10-11 (حَافِظِينَ dan كَاتِبِينَ),
13-14 (نَعِيمٍ dan جَحِيمٍ)
yakni memiliki huruf akhir yang sama, begitu pun dengan wazannya.
Ø Washl
Yakni menggabungkan suatu kalimat dan kalimat
sebelumnya dengan menggunakan huruf athaf. Dalam surat ini terdapat washal dari
ayat 1-4, 8-9, dan 15-17.
Ø Fashl
Yakni menggabungkan suatu kalimat dengan kalimat
sebelumnya tanpa adanya huruf athaf. Fashl terdapat pada ayat 4 dan 5, bahwa
ayat 5 tersebut menjelaskan ayat ke-4
Ø Ta’adul
Yakni kalimat yang tertata secara sejajar, hal ini
dapat kita jumpai pada ayat 1-5 yang diakhiri dengan kata رَتْ, 7-9 yang diakhiri dengan huruf كَ , dan 13-18 yang diakhiri dengan huruf ينِ. Adanya kesejajaran dalam setiap ayatnya
membuat semakin indah untuk didengar.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Surat Al-infithar menjelaskan tentang betapa dahsyatnya gambaran alam pada
hari kiamat esok. Dengan menggambarkan sedemikian rupa, manusia diharapkan
takut dan mau mempersiapkan bekal untuk menghadapi hari tersebut. Namun
sebaliknya manusia malah larut dalam kegiatan yang buruk, mereka mengandalkan
kebaikan dan kemurahan Allah SWT atas apa yang mereka lakukan. Selain itu
berbagai macam ungkapan dan gaya bahasa yang ada dalam surat ini juga mendukung
dalam penggambaran alam di hari pembalasan, dan peringatan terhadap manusia.
B.
Daftar
Pustaka
Shihab, Quraish, Tafsir Al-Mishbah: pesan, kesan, dan keserasian dalam
Al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2002
Shaleh, KHQ dkk, Asbabun Nuzul, Bandung:
Diponegoro, 1990
Ad-Darwisy,
Muhyiddin, I’rab Al-Qur’an Al-Karim, Suriah: Dar Al-Irsyad Lis-Syu’un
Al-Jami’ah, 1992
Fuad, Muhammad Abdul Baihaqi, Al-Mu’jam Al-Mufahros,
Mesir: Darul Hadist
[1]
M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah: pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an,
vol. 15 (Jakarta: lentera hati), 2002, hal. 101
[2]
KHQ Shaleh, HAA Dahlan, HMD Dahlan, asbabunnuzul, (Bandung
: Diponegoro), 1990
[3]
M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah: pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an,
vol. 15 (Jakarta: lentera hati), 2002, hal. 114
[4]
Muhyiddin ad-darwisy, I’rab Al-Qur’an Al-Karim jilid 10, (Suriah: Dar
Al-Irsyad Lis-Syu’un Al-Jami’ah) 1992, hal. 461
[5]
M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah: pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an,
vol. 15 (Jakarta: lentera hati), 2002, hal. 114
[6]
Muhammad abdul baihaqi fuad, Al-Mu’jam Al-Mufahros, (Mesir: Darul
Hadist), hal.427
Tidak ada komentar:
Posting Komentar