BAB II
PEMBAHASAN
A.
STRUKTURALISME GENETIK
1.
Sejarah
munculnya strukturalisme genetik
Strukturalisme
genetik merupakan teori di bawah payung sosiologi sastra. Strukturalisme
genetik ditemukan oleh Lucien Goldmann, seorang filsuf dan sosiolog
Rumania-Perancis. Teori tersebut dikemukakan dalam bukunya yang berjudul The
Hidden God: a Study of Tragic Vision in the Pensees of Paskal and the Tragedies
of Racine[1]. Strukturalisme
genetik adalah sebuah pendekatan di dalam penelitian sastra yang lahir sebagai
reaksi pendekatan strukturalisme murni yang anti historis dan kausal.
Kemunculannya disebabkan, adanya ketidakpuasan terhadap pendekatan
strukturalisme, yang kajiannya hanya menitikberatkan pada unsur-unsur
instrinsik tanpa memperhatikan unsur-unsur ekstrinsik karya sastra, sehingga
karya sastra dianggap lepas dari konteks sosialnya.
Goldmann menyebutkan teorinya sebagai
struturalisme genetik. Artinya, ia percaya bahwa karya sastra merupakan sebuah
struktur[2].
Akan tetapi, struktur itu bukanlah sesuatu yang statis, melainkan merupakan
produk dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses strukturasi dan
destrukturasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat karya sastra yang
bersangkutan, sehingga struktur sosial yang ada di masyarakat mengalami
destrukturasi pada karya sastra melalui pengarang.
Adapun teori strukturalisme genetik bermula
dari tiga fundamental perilaku manusia yang merupakan hakikat hubungan manusia
dengan lingkungannya, tiga ciri itu adalah:
(1) adanya kecenderungan manusia menyesuaikan
diri terhadap realitas lingkungannya sehingga sifat hubungan tersebut rasional
dan bermakna
(2) adanya kecenderungan terhadap konsistensi
menyeluruh, dan penciptaan bentuk-bentuk struktural
(3) adanya sifat dinamik, misalnya adanya
kecenderungan mengubah dan mengembangkan struktur tersebut (Yasa, 2012:28).
2.
Pengertian
Teori Strukturalisme Genetik
Teori struktural bertujuan untuk memaparkan
dengan cermat makna karya sastra secara menyeluruh. Pendekatan struktural
adalah suatu pendekan yang menitik beratkan karya sastra sebagai suatu struktur
yang otonom, yang kurang lebih terlepas dari hal-hal yang berada diluar karya
sastra[3].
Pemahaman tentang hal diluar karya sastra, berangkat dari karya itu sendiri.
Teori struktural ini dibutuhkan untuk mengetahui unsur-unsur berdasarkan
paradigma pembangun struktur kebahasaannya dan mengetahui pola strukturnya.
Tujuan yang lain dari konsep teori struktural adalah untuk menjaga kritik
Sastra agar tetap bekerja. Dalam teori struktural berkembang dan dibagi menjadi
teori strukturalisme formalis, strukturalisme dinamik, strukturalisme
semiotik dan termasuk di dalamnya adalah teori strukturalisme genetik.
Strukturalisme genetik memasukan faktor
genetik dalam karya sastra, genetik sastra artinya asal usul karya sastra.
Adapun faktor yang terkait dalam asal muasal karya sastra adalah pengarang dan
kenyataan sejarah yang turut mengkondisikan saat karya sastra itu diciptakan. Secara
definitif strukturalisme-genetik adalah analisis struktur dengan memberikan
perhatian terhadap asal usul karya. Secara ringkas berarti bahwa
strukturalisme-genetik sekaligus memberikan perhatian terhadap analisis
intrinsik dan ekstrinsik[4]. Strukturalisme
genetik memandang karya sastra dari dua sudut yaitu intrinsik dan ekstrinsik.
Karya sastra tidak hanya sekedar imajinatif dan pribadi, melainkan merupakan
cerminan atau rekaan budaya, suatu perwujudan pikiran tertentu saat karya
dilahirkan. Studi awal dari kajian unsur intrinsik sebagai data dasarnya,
selanjutnya peneliti akan menghubungkan berbagai unsur tersebut dengan realitas
masyarakat.
Strukturalisme genetik mencoba untuk
memperbaiki kelemahan pendekatan Strukturalisme, yaitu dengan memasukkan faktor
genetik di dalam memahami karya sastra. Strukturalisme Genetik sering juga
disebut strukturalisme historis, yang menganggap karya sastra khas dianalisis
dari segi historis. Goldmann bermaksud menjembatani jurang pemisah antara
pendekatan strukturalisme (intrinsik) dan pendekatan sosiologi (ekstrinsik).
Dari sudut pandang sosiologi sastra, strukturalisme
genetik memiliki arti penting, karena menempatkan karya sastra sebagai data
dasar penelitian, memandangnya sebagai suatu sistem makna yang berlapis-lapis
yang merupakan suatu totalitas yang tak dapat dipisah-pisahkan[5]. Hakikatnya
karya sastra selalu berkaitan dengan masyarakat dan sejarah yang turut
mengkondisikan penciptaan karya sastra, walaupun tidak sepenuhnya di bawah
pengaruh faktor luar tersebut. Menurut Goldmann, struktur itu bukanlah sesuatu
yang statis, melainkan merupakan produk dari proses sejarah yang terus
berlangsung, proses strukturasi dan destrukturasi yang hidup dan dihayati oleh
masyarakat asal karya sastra yang bersangkutan[6]. Arti
karya sastra dapat dipahami dalam konteks sosial masyarakat yang
melatarbelakanginya. Di sinilah strukturalisme genetik berkaitan dengan
sosiologi karena pemaknaan struktur karya sastra ditempatkan dalam struktur
masyarakat (Kurniawan, 2012:104).
Untuk menopang teorinya tersebut Goldmann
membangun seperangkat kategori yang saling bertalian satu sama lain sehingga
membentuk apa yang disebut sebagai strukturalisme genetik di atas.
Kategori-kategori itu adalah fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi,
pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan[7]:
Ø Fakta
Kemanusiaan
Fakta kemanusiaan adalah segala hasil aktifitas atau perilaku manusia baik yang
verbal maupun yang fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan. Fakta
ini dapat berwujud aktifitas sosial tertentu, aktivitas politik tertentu,
maupun kreasi kultural seperti filsafat, seni rupa, seni patung, dan seni
sastra. Fakta-fakta kemanusiaan pada hakikatnya dapat dibedakan menjadi dua
macam, yaitu fakta individual dan fakta sosial. Fakta yang kedua mempunyai
peranan penting dalam sejarah, sedangkan fakta yang pertama tidak memiliki hal
itu. Goldmann menganggap bahwa semua fakta kemanusiaan merupakan suatu struktur
yang berarti. Yang dimaksudkannya adalah bahwa fakta-fakta itu sekaligus
mempunyai struktur tertentu dan arti tertentu. Oleh karena itu, pemahaman
mengenai fakta-fakta kemanusiaan harus mempertimbangkan struktur dan artinya.
Goldman juga mengatakan bahwa fakta-fakta kemanusiaan mempunyai arti karena
merupakan respon-respon dari subjek kolektif atau individual, pembangunan suatu
percobaan untuk memodifikasi situasi yang ada agar cocok bagi aspirasi-aspirasi
subjek itu. Dengan kata lain, fakta-fakta itu merupakan hasil usaha manusia
mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungannya dengan dunia sekitar .
Ø Subjek
kolektif
Subjek kolektif adalah subjek yang berparadigma dengan subjek fakta sosial
(historis). Subjek ini juga disebut subjek trans individual. Goldmann
mengatakan revolusi sosial, politik, ekonomi, dan karya-karya kultural yang
besar, merupakan fakta sosial (historis). Individu dengan dorongan libidonya
tidak akan mampu menciptakannya. Yang dapat menciptakannya hanya subjek
transindividual. Subjek transindividual adalah subjek yang mengatasi individu,
yang didalamnya individu hanyalah merupakan bagian. Subjek trans individual
adalah kumpulan individu-individu yang tidak berdiri sendiri-sendiri, merupakan
satu kesatuan, satu kolektivitas.
Ø Struktur
Karya Sastra
Struktur karya sastra, dalam hal ini roman, tetap menjadi sesuatu yang penting.
Struktur roman merupakan hal pokok yang harus diketahui dan dianalisis lebih
dulu sebelum menganalisis pandangan dunia pengarang. Struktur roman adalah
hal-hal pokok dalam roman yang meliputi unsur-unsur intrinsiknya. Di dalam
eseinya yang berjudul The Epistemology of Sociology,
Goldmann mengemukakan dua pendapat mengenai karya sastra pada umumnya yaitu
pertama bahwa karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner.
dan kedua bahwa dalam usahanya dalam mengekspresikan pandangan dunia itu
pengarang menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek, dan relasirelasi secara
imajiner . Dengan mengemukakan dua hal tersebut Goldmann dapat membedakan karya
sastra dari filsafat dan sosiologi. Menurutnya filsafat mengekspresikan
pandangan dunia secara konseptual, sedangkan sosiologi mengacu pada
empirisitas.
Dalam eseinya yang berjudul The Sociology of Literature: Status and
Problem Method Goldmann mengatakan bahwa dalam hampir seluruh
karyanya
penelitian dipusatkan pada elemen kesatuan, pada usaha
menyingkapkan struktur yang koheren dan terpadu yang
mengatur keseluruhan semesta karya sastra.
Ø Pandangan
Dunia
Goldmann berpendapat, karya sastra sebagai struktur bermakna itu akan mewakili
pandangan dunia (vision du monde) penulis, tidak
sebagai individu melainkan sebagai anggota masyarakat[8].
Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa strukturalisme genetik merupakan
penelitian sastra yang menghubungkan antara struktur sastra dengan struktur
masyarakat melalui pandangan dunia atau ideologi yang diekspresikannya. Oleh
karena itu, karya sastra tidak akan dapat dipahami secara utuh jika totalitas
kehidupan masyarakat yang telah melahirkan teks sastra diabaikan begitu saja.
Pengabaian unsur masyarakat berarti penelitian sastra menjadi pincang.
Pandangan dunia adalah kerucutisasi ide-ide,
gagasan-gagasan dari suatu kelompok sosial tertentu dan dipertentangkan dengan
ide-ide, gagasan-gagasan kelompok sosial lainnya.
Pandangan dunia menurut Goldmann adalah istilah yang cocok bagi kompleks
menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan-perasaan, yang
menghubungkan secara bersama-sama anggotaanggota suatu kelompok sosial tertentu
dan yang mempertentangkannyadengan kelompok-kelompok sosial lain. Sebagai suatu
kesadaran kolektif, pandangan dunia itu berkembang sebagai hasil dari situasi
sosial dan ekonomik tertentu yang dihadapi subjek kolektif yang memilikinya.
3.
Penerapan terhadap pendekatan strukturalisme
genetik
Penerapan terhadap pendekatan strukturalisme genetik ini dapat
dilakukan dengan dimulai dari kajian unsur-unsur intrinsik sastra, baik secara
parsial maupun kajian keseluruhan. Kemudian mengkaji latar belakang kehidupan
sosial kelompok pengarang karena ia merupakan bagian dari komunitas masyarakat
tertentu. Di samping itu tidak luput juga untuk mengkaji latar belakang sosial
dan sejarah yang turut mengondisikan karya sastra saat ia diciptakan oleh
pengarang. Dan akhir dari kegiatan ini, adalah berhasil untuk mengungkap pandangan
dunia pengarang tersebut.
4. Kelebihan dan kekurangan strukturalisme genetik
Strukturalisme genetik dikembangkan atas dasar
penolakan terhadap analisis strukturalisme murni yang menganalisis karya sastra
terhadap struktur intrinsik saja, strukturalisme genetik melangkah lebih jauh
ke struktur sosial dan karya sastra dapat dipahami dari asalnya dan terjadinya
(unsur genetik) dan latar belakang sosial tertentu. Keunggulan dalam pendekatan
ini yaitu adanya pemahaman hubungan karya dengan lingkungan sosialnya,
Pendekatan ini dianggap sebagai satu-satunya pendekatan yang mampu
merekonstruksikan pandangan dunia pengarang. Adapun kelemahannya yaitu harus
memahami betul karakter pengarang dalam karya-karya sastranya. Unsur intrinsik
dan Ekstrinsik pada pendekatan struktural genetik. Misal pada puisi yaitu,
unsur intrinsik meliputi: Diksi, ritme, pengimajian, tema, dan amanat.
Sedangkan unsur ekstrinsik meliputi: Biografi pengarang dan hubungan karya
sastra dengan kondisi sosial masyarakat pada saat karya sastra itu lahir.
Berikut contoh puisi yang akan dianalisis dengan pendekatan strukturalisme
genetik:
AKU
KaryaChairilAnwar
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ’kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan akuakan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
KaryaChairilAnwar
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ’kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan akuakan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret, 1943
A.
Unsur Intrinsik
1. Diksi
Untuk ketepatan pemilihan kata sering kali penyair menggantikan kata yang dipergunakan berkali-kali yang dirasa belum tepat, diubah kata-katanya. Pada baris kedua bait pertama: “Ku mau tak seorang ’kan merayu” Merupakan pengganti dari kata “ku tahu”.
Untuk ketepatan pemilihan kata sering kali penyair menggantikan kata yang dipergunakan berkali-kali yang dirasa belum tepat, diubah kata-katanya. Pada baris kedua bait pertama: “Ku mau tak seorang ’kan merayu” Merupakan pengganti dari kata “ku tahu”.
2. Ritme
Ritme dalam
puisi yang berjudul AKU ini terdengar menguat karena ada pengulangan
bunyi (Rima) pada huruf vokal ‘U’ dan ‘I.
Vokal ‘U’ pada
larik pertama dan kedua. Pengulangan berseling vokal a-u-a-u:
larik pertama “Kalau sampai waktuku”
larik kedua “Ku
mau tak seorang-’kan merayu”
larik ketiga “Tidak
juga kau”.
Pengulangan
vokal ‘I:
Luka dan bisa
kubawa berlari,
Berlari
Hingga hilang
pedih perih
Dan aku akan lebih
tidak peduli
Aku mau hidup
seribu tahun lagi
4.
Pengimajian
‘Ku mau tak seorang ’kan merayu (Imaji
Pendengaran)
Tak perlu sedu sedan itu (Imaji Pendengaran)
Biar peluru menembus kulitku (Imaji Rasa)
Hingga hilang pedih perih (Imaji Rasa)
5.
Tema
Tema dalam puisi AKU ini adalah
perjuangan seperti pada baris keempat dan kelima.
Biar peluru menembus kulitku
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
6.
Amanat
• Manusia
harus tegar, kokoh, terus berjuang, pantang mundur meskipun rintangan
menghadang.
• Manusia harus berani mengakui keburukan dirinya, tidak hanya menonjolkan kelebihannya saja.
• Manusia harus mempunyai semangat untuk maju dalam berkarya agar pikiran dan semangatnya itu dapat hidup selama-lamanya
• Manusia harus berani mengakui keburukan dirinya, tidak hanya menonjolkan kelebihannya saja.
• Manusia harus mempunyai semangat untuk maju dalam berkarya agar pikiran dan semangatnya itu dapat hidup selama-lamanya
B.
Unsur Ekstrinsik
1. Biografi Pengarang
•Chairil Anwar
di Medan, 22 Juli 1922.
•Mulai muncul
di dunia kesenian pada zaman Jepang.
•Dilihat dari
esai-esai dan sajak-sajaknya terlihat bahwa ia seorang yang individualis
yang bebas dan berani dalam menentang lembaga sensor jepang.
•Chairil pun
seorang yang mencintai tanah air dan bangsanya, hal ini tampak pada sajak-sajaknya:
Diponegoro, Karawang-Bekasi, Persetujuan dengan Bung Karno, dll.
2. Hubungan Karya Sastra Dengan kondisi sosial masyarakat Pada Saat Karya Sastra Lahir.
2. Hubungan Karya Sastra Dengan kondisi sosial masyarakat Pada Saat Karya Sastra Lahir.
·
Sajak AKU ini, banyak dipengaruhi
oleh kondisi sosial masyarakat pada zaman itu. Bahkan sebagai akibat dari
lahirnya sajak AKU ini, Chairil Anwar ditangkap dan dipenjara oleh Kompetai
Jepang. Hal ini karena sajaknya terkesan membangkang terhadap pemerintahan
Jepang.
·
Sajak AKU ini ditulis pada tahun
1943, di saat jaman pendudukan Jepang
·
Kondisi masyarakat pada waktu itu
sangat miskin dan menderita.
·
Bangsa Indonesia berada di bawah
kekuasaan Jepang, tanpa mampu berbuat banyak untuk kemerdekannya.
·
Kerja paksa marak terjadi hampir di
seluruh wilayah Indonesia.
·
Bangsa Indonesia menjadi budak di
negaranya sendiri.
[1]
Nur Chalima “Novel senja di jakarta sebuah analisis strukturalisme Genetik”, Skripsi
(Surabaya : Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga) 1994.
[2]
Faruk, Pengantar Sosiologi Sastra
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar) 1999, hal. 56
[4] Nyoman Kutha Ratna, Paradigma Sosiologi
Sastra (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), 2008, hal. 123
[5] Sapardi
Djoko Damono, Sosiologi Sastra
Sebuah Pengantar Ringkas (Jakarta:
Depdikbud) 1978, hal. 42
[6]
Faruk, Pengantar Sosiologi Sastra
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar) 1999, hal. 12
[7]
Ibid
[8]
Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi
(Yogyakarta: Pustaka Widyatama) 2003, hal. 57